Sunday, October 16, 2011

Saya nak beli jiwa, murah tak?

Dah lama sangat jari tak menari di atas papan keyboard. Jari yang bertanggungjawab menari mengikut alunan jiwa saya. Haih,

Semenjak dua menjak ini, hanya keluhan saja yang selalu saya luahkan. Haih, haih, haih.

Saya kini mempunyai kerja idaman semenjak berusia 16 tahun, mengapa perlu mengeluh? Bisnes semakin maju, Alhamdulillah, namun kenapa masih mengeluh? Di kelilingi mereka yang menyayangi saya seadanya, tetap-keluhan yang saya luahkan. Tidak bersyukurkah saya pada nikmat yang Tuhan berikan? Apa saya ini manusia tuli tanpa akal dan perasaan?

Kosong. Itu yang saya rasa.

Melihat mereka di sekeliling saya bergembira, saya juga turut menumpang ceria. Kompang dipalu, hubungan dirai, kelahiran orang baru, ikatan janji setia - membuatkan saya bahagia. Terselit di sudut kecil hati yang saya juga ingin mengalami perasaan indah itu. Tetapi, sudah bersediakah saya? Sudah tetapkah pendirian saya?

24 tahun bukannya muda lagi - untuk wanita ortodoks seperti saya. Tetapi itu lah masalahnya, sudah bersediakah saya? Hidup saya bagaikan sudah sempurna. Bagai sudah ada semua, tapi bagaimana dengan jiwa?

Saya gah bermain dengan kerja. Tidak mengapa kerja tanpa henti, susah manapun, tidak mengapa. Namun bila berkait dengan hati, terus lemah semua sendi. Terus jadi bodoh, pekak, tuli. Mungkin terlalu takut dengan masa depan. Takut akan akibat yang perlu dihadapi akibat sesuatu keputusan.

P.s: Haih, kan senang kalau ada mesin rentas masa dari poket Doraemon?

Ibu; "Asyik kerja siang malam, kek lagi - bila masanya akak bercinta" (-,-")



1 comments:

farid said...

Hmmm, penulisan awak membuai jiwa saya. For the first time i'm impresssed with writings.

Mood : waiting for ur next writing.